EN / ID
16 July 2013

Elnusa Sesalkan Pernyataan Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Direktur Utama Bank Mega

PT Elnusa Tbk. (kode emiten: ELSA), salah satu perusahaan nasional penyedia jasa energi, melalui Vice President of Corporate Legal and Contract, A.S. Suryanto, menyesalkan pernyataan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah yang dimuat sejumlah media nasional. Pernyataan tersebut dinilai tidak etis disampaikan oleh pejabat BI karena berpotensi mempengaruhi proses hukum yang tengah berlangsung di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Selain itu, selaku pejabat BI seharusnya Halim Alamsyah menunjukan kepedulian pada aspek perlindungan nasabah bank, bukan sebaliknya, menyalahkan nasabah yang menjadi korban.

Adapun hal penting yang disampaikan Halim Alamsyah tersebut adalah sebagai berikut:
“namun, kasus yang terjadi di Bank Mega, kata dia, cukup unik, karena melibatkan pihak ketiga dan nasabah dalam penyalahgunaan dana nasabah. Sebab itu, BI tidak dapat menyatakan bahwa kesalahan terletak sepenuhnya di Bank Mega.” (Investor Daily, Kamis, 11 Juli 2013, hal. 22. Sengketa Nasabah, Komisi XI Panggil Manajemen Lima Bank).

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib:
“pihaknya pasti sudah mengganti dana tersebut jika kejahatan tersebut adalah fraud yang melibatkan oknum Bank Mega dan tidak melibatkan nasabah yang akunnya dibobol. “Kalau nasabah tidak terlibat kami ganti, tapi mereka terlibat dan sudah dihukum,” ujarnya -(http://www.tempo.co/read/news/2013/07/10/087495233/BI-Kunci-Escrow-Account-Bank-Mega-Rp-191-Miliar).

Terkait pernyataan yang dimuat di berbagai media massa tersebut, A.S. Suryanto menilai bahwa:
a. Tidak sepantasnya Halim Alamsyah selaku pejabat BI menyampaikan opini yang mendahului keputusan Mahkamah Agung yang saat ini tengah mengadili perkara perdata pembobolan dana deposito Elnusa di Bank Mega yang telah dimenangkan Elnusa di tingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi. Sebagai pejabat bank sentral, Halim Alamsyah seharusnya turut mendukung independensi proses hukum yang tengah dilaksanakan di Mahkamah Agung. Pernyataan seperti itu dinilai tidak etis, apalagi disampaikan dalam satu forum dengan Bank Mega selaku pihak tergugat.

b. Pernyataan Halim Alamsyah tersebut justru bertentangan dengan keputusan BI, melalui Siaran Pers Bank Indonesia No. 13/18/PSHM tanggal 24 Mei 2011 yang menyatakan bahwa Bank Mega bersalah melanggar ketentuan internal bank serta kelemahan SOP dan Pengendalian Internal. Bank Mega juga dinilai melanggar PBI No 5/8/PBI/2003 yang telah diubah dengan PBI No 11/25/PBI/2009 tentang Penerapan Manajemen Resiko Bagi Bank. Terkait pelanggaran tersebut, Rapat Dewan Gubernur BI, 23 Mei 2011 telah memutuskan menjatuhkan sanksi terhadap Bank milik Chairul Tanjung tersebut, antara lain berupa: (1) Menghentikan penambahan nasabah Deposit on Call (DoC) baru dan perpanjangan DoC lama, termasuk untuk produk sejenis seperti Negotiable Certificate of Deposit (NCD), selama 1 (satu) tahun, (2) Menghentikan pembukaan jaringan kantor baru selama 1 (satu) tahun.
Sanksi tersebut berlaku sejak 24 Mei 2011 (3) Bank Indonesia melakukan Fit & Proper Test terhadap manajemen dan pejabat eksekutif PT. Bank Mega,Tbk.

c. Pernyataan Halim Alamsyah juga bertentangan dengan hasil penyidikan Laboratorium Forensik Mabes Polri, yang dijadikan dasar putusan PN Jakarta Selatan dalam mengabulkan gugatan perdata Elnusa. “Jika Bank Mega dinyatakan tidak bersalah, maka harus dapat dibuktikan dulu bahwa hasil penyidikan Laboratorium Forensik Mabes Polri itu tidak benar”, tambah Suryanto.

Lebih lanjut, Suryanto juga mempertanyakan pernyataan Halim Alamsyah dan Kostaman Thayib bahwa “nasabah” terlibat dalam kasus tersebut. “Perlu kami tegaskan bahwa yang menjadi nasabah atau deposan adalah Elnusa sebagai institusi bukan Santun Nainggolan selaku mantan Direktur Keuangan atau oknum yang terlibat,” jelas Suryanto.

Suryanto menghimbau agar manajemen Bank Mega mencontoh sikap manajemen Citibank yang langsung mengganti kerugian nasabahnya dalam kasus dana yang dibobol Malinda Dee selaku pegawai Citibank. “Sikap tersebut menunjukan komitmen perbankan pada perlindungan nasabah bank,” tegas Suryanto.

Tertahannya dana deposito Rp 111 miliar di Bank Mega, sangat berpengaruh bagi bisnis Elnusa. Pasalnya, jika dana deposito di Bank Mega tidak bisa cair, akan menggerus laba perseroan yang ditargetkan Rp 138 Miliar pada tahun 2013. “Saat ini dana deposito Rp 111 miliar masih kami tempatkan dalam neraca keuangan. Kalau sampai tidak cair, maka harus dikeluarkan sehingga ini akan mengurangi laba perseroan,” ujar Suryanto.

Semakin lama proses hukum berjalan, semakin besar kerugian yang diderita Elnusa. “Mengendapnya dana Rp 111 miliar itu seharusnya dapat digunakan perseroan untuk mengerjakan berbagai proyek. Apalagi, jasa kontrak hulu minyak dan gas bumi bersifat jangka pendek, sekitar 3 bulan. Untuk mengerjakan berbagai proyek itu setidaknya Elnusa harus memiliki modal 30 – 60 hari” tambah Suryanto.

Back to News