EN / ID
25 November 2019

Elnusa Kejar Inovasi agar Tak Kena Disrupsi

Menghadapi ketidakpastian di era industry 4.0, Elnusa bertindak cepat. Daripada terlibas disrupsi di masa yang penuh dengan volatility, uncertainty, complexity & ambiguity (VUCA) ini, Elnusa memilih menyiapkan diri melakukan perubahan revolusioner. “Bahkan bila perlu, melakukan perubahan yang bisa jadi akan mendisrupsi bisnis kami sendiri,” kata Hera Handayani, VP Engineering Center & Quality Management PT Elnusa Tbk. Beberapa waktu lalu.

Hera mengungkapkan, continuous improvement program (CIP yang selama ini diandalkan merespon perubahan dan mencari solusi atas berbagai masalah kini sudah tidak memadai lagi ketika teknologi bergerak maju secara eksponensial. “Oleh karena itu kita harus berbuat sesuatu untuk memanfaatkan kemajuan teknologi yang bergerak cepat ini,” tambahnya.

Agustus 2019  lalu Elnusa meluncurkan Program Innovation Incubator yang  disebut Agni. Program ini lahir untuk menjawab tantangan VUCA dan disrupsi yang terjadi di dunia industri energi saat ini. “Agni bertujuan untuk menghasilkan produk dan layanan baru dengan metode inkubasi dan mengakselerasi ide inovasi dari seluruh insan  Elnusa,” jelas Hera. Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti api, Agni adalah energi baru bagi seluruh insan Elnusa untuk berinovasi tiada henti, memberikan kontribusi positif demi kemajuan Elnusa di masa mendatang. Melalui Agni perubahan evolusioner diharapkan terjadi, dan semua inovasi itu diarahkan untuk pembentukan revenue baru (new revenue generation).

Tim manajemen Agni terdiri dari pribadi-pribadi terpilih yang diseleksi secara ketat, yang diambil dari setiap  fungsi di Elnusa. Agni Management yang juga disebut Agnior akan menyeleksi ide-ide cemerlang dari karyawan Elnusa. “Mereka mengelola inovasi agar tidak berhenti hanya sebagai ide saja. Mereka bekerja untuk memastikan ide cemerlang bisa terwujud,” tutur Hera dengan bangga. Hastag program ini adalah, “Inovasi untuk Negeri”

Novrizal, Team Leader Agni mengungkapkan, Program Innovation Incubator Agni ini memang berbeda dengan CIP maupun Business Development dari perusahaan. Program corporate innovation Agni  ini adalah mengembangkan suatu bisnis, dimulai dari awal dengan model start-up. Hal yang paling krusial dalam konteks start-up ini adalah foundership yaitu siapa yang punya ide itu dan dialah yang akan mendrive bisnis itu. “Karena dia yang paling paham dengan konsep dan tujuan bisnis itu. Dialah yang akan akan mendrive strong idea become implemented dengan energi yang sangat powerful,” ucap Novrizal. Namun ia menambahkan, harus disadari bisnis bermodel start-up ini memiliki failure rate tinggi.

Sesungguhnya Elnusa mengambil pola ini bukan semata-mata mengharapkan bisnis dengan pola start-up ini menjadi besar dan memberikan kontribusi pendapatan kepada Elnusa. Tentu saja revenue generation menjadi dasar dari semua itu, namun yang menarik dalam corporate innovation adalah dalam hal kultur inovasi. Novrizal berharap dengan konsep foundership maka pada si founder akan terbentuk kultur inovasi yang kuat. “Kalau idenya gagal maka dia akan mencoba lagi berkali-kali dengan ide lain, sehingga paling tidak dia mendapat 3 hal: dia akan multi talented; dia ia akan terpatri untuk selalu mengusahakan menjadi lebih baik; dan dia a akan merasakan sensasi mengelola bisnis sendiri,” ujar Novrizal mengungkap hikmah kegagalan. Sehingga seseorang yang terlibat di Program AGNI, ketika dia tidak berhasil maka dia akan mendapatkan strong culture inovasi yang bisa dimanfaatkan di tempat ia berada sebelumnya atau di mana yang bakal ditempatkan setelah itu. Sementara kalau dia berhasil maka keberhasilannya akan berefek eksponensial.

Program Agni dilaunching pada 2  Agustus 2019 dan pada 29 Oktober pendaftaran ditutup dengan jumlah pendaftar sekitar 50 ide. “Pada 2021 direksi menargetkan terdapat 2 ide yang masuk tahap komersialisasi, jadi kami punya waktu sekitar 2 tahun,”ujar Novrizal. Secara statistik, di dunia tingkat keberhasilan startup angkanya 10%, di Indonesia 5%, maka Agni menetapkan angka 3-4 %. “Karena itu kami bütuh sekitar 60 ide yang masuk inkubasi untuk mendrive ide tersebut. Sehingga kami butuh 120 ide yang masuk ke Manajemen Agni,” jelas Novrizal.

Kembali Ke Berita